BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner SELAMAT DATANG DI WEBSITE "ALISYA NEWS"

Daniel Jusari Membaca Ulang Arah Peradi SAI Kota Padang di Tengah Tuntutan Zaman


PADANG — Suasana ruang pertemuan di Axana Hotel Padang, Jumat malam 23 Januari 2026, menjadi saksi lahirnya sebuah percakapan yang jauh dari nuansa seremonial. Tidak ada euforia berlebihan, tidak pula narasi politik organisasi yang kaku. Yang terasa justru atmosfer refleksi, evaluasi, dan keinginan untuk membaca ulang arah perjalanan Peradi SAI Kota Padang di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Dalam forum tersebut, Daniel Jusari, SH, MH, tampil dengan pendekatan yang berbeda. Ia tidak berbicara sebagai sosok yang sedang memburu posisi, melainkan sebagai bagian dari komunitas advokat yang merasakan langsung dinamika, kegelisahan, sekaligus harapan terhadap organisasi profesi. Nada bicaranya tenang, namun substansinya tajam dan menyentuh persoalan mendasar.

Daniel memulai dengan menggambarkan realitas profesi advokat hari ini yang semakin kompleks. Perubahan regulasi, perkembangan teknologi, meningkatnya pengawasan publik, serta tuntutan etika yang kian tinggi, menurutnya, menuntut organisasi advokat tidak lagi berjalan dengan pola lama. Peradi SAI Kota Padang, kata dia, tidak boleh hanya hadir sebagai simbol formal, melainkan harus dirasakan manfaatnya secara nyata oleh setiap anggota.

Ia menyoroti persoalan tata kelola sebagai fondasi utama. Transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan informasi dipandangnya bukan sekadar jargon, tetapi prasyarat untuk membangun kepercayaan internal. Organisasi, menurut Daniel, harus mampu menjelaskan apa yang dikerjakan, bagaimana keputusan diambil, serta ke mana arah pengelolaan sumber daya dijalankan.

Dalam konteks itu, gagasan digitalisasi menjadi salah satu isu sentral. Daniel menilai, sistem informasi yang terbuka, terdokumentasi, dan mudah diakses akan memperkuat rasa memiliki anggota terhadap organisasi. Bukan hanya soal administrasi, tetapi juga sebagai ruang komunikasi, pelaporan kegiatan, hingga transparansi pengelolaan keuangan.

Selain tata kelola, ia menempatkan peningkatan kompetensi advokat sebagai agenda yang tidak bisa ditawar. Menurutnya, marwah organisasi sangat ditentukan oleh kualitas anggotanya. Pendidikan berkelanjutan, diskusi ilmiah, dan forum pertukaran pengalaman harus menjadi denyut nadi Peradi SAI Kota Padang agar para advokat tidak tertinggal oleh perkembangan hukum yang terus bergerak.

Daniel juga mengangkat isu perlindungan profesi. Ia menyebut, dalam praktik, advokat kerap berada dalam posisi rentan ketika menjalankan tugas dengan itikad baik. Dalam situasi seperti itu, kehadiran organisasi sebagai pelindung bukan sekadar simbolik, melainkan harus nyata, terukur, dan konsisten.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa Peradi SAI Kota Padang tidak boleh terlepas dari tanggung jawab sosial. Profesi advokat, menurutnya, memiliki mandat moral untuk hadir di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang kesulitan mengakses keadilan. Program edukasi hukum, bantuan hukum probono, dan pendampingan masyarakat rentan dipandang sebagai cerminan fungsi sosial organisasi.

Gagasan tentang organisasi yang inklusif juga menjadi penekanan. Daniel menilai, ruang dialog harus dibuka seluas-luasnya agar suara anggota, baik kritik maupun saran, menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Baginya, perbedaan pandangan bukan ancaman, melainkan sumber energi untuk perbaikan.

Ia menyadari bahwa pembenahan tidak dapat dilakukan secara instan. Perubahan, kata Daniel, membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan komitmen kolektif. Tidak ada satu figur pun yang bisa bekerja sendiri. Kekuatan organisasi justru terletak pada kemauan seluruh elemen untuk bergerak bersama dalam satu arah.

Dalam seluruh pemaparannya, integritas ditempatkan sebagai nilai utama. Profesionalisme tanpa integritas, menurut Daniel, hanya akan melahirkan krisis kepercayaan, baik di internal organisasi maupun di mata publik. Oleh karena itu, etika dan moral profesi harus terus dijaga sebagai pilar utama.

Malam refleksi di Axana Hotel Padang itu menjadi potret bahwa Peradi SAI Kota Padang tengah berada pada fase penting dalam perjalanannya. Disebut sebagai calon Ketua periode 2026–2030, Daniel Jusari lebih memilih menonjolkan substansi gagasan ketimbang narasi personal. Ia menghadirkan evaluasi, arah, dan ajakan untuk berbenah secara bersama.

Forum tersebut bukan sekadar diskusi, melainkan penanda bahwa Peradi SAI Kota Padang sedang mencari bentuk terbaiknya di tengah tuntutan zaman. Sebuah ikhtiar untuk menjadikan organisasi advokat tidak hanya kokoh secara struktur, tetapi juga relevan, berintegritas, dan benar-benar menjadi rumah bagi para pencari keadilan.(Hendri).

Posting Komentar

0 Komentar