Perubahan ini tidak sekadar slogan transformasi, melainkan pergeseran metode kerja. Jika sebelumnya penanganan kemacetan dan kecelakaan dilakukan setelah peristiwa terjadi, kini Korlantas mengedepankan sistem pemetaan risiko dan analisis tren mobilitas. Tujuannya jelas: mencegah kepadatan dan kecelakaan sebelum muncul di lapangan.
Irjen Agus Suryonugroho menegaskan bahwa polisi lalu lintas tidak boleh lagi hanya menunggu laporan masyarakat atau lonjakan kendaraan di titik rawan. Dengan sistem berbasis data, potensi kemacetan dapat diprediksi melalui analisis volume kendaraan harian, pola pergerakan musiman, hingga statistik kecelakaan di wilayah tertentu. Pendekatan ini diklaim sebagai fondasi manajemen lalu lintas modern di tahun 2026.
Data Korlantas Polri selama Operasi Keselamatan 2026 menunjukkan penurunan angka kecelakaan sekitar 34,96 persen serta penurunan korban meninggal dunia hingga 51,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski angka tersebut menjadi indikator keberhasilan, publik tetap menanti konsistensi implementasi di lapangan, terutama saat puncak arus mudik yang kerap menjadi ujian sesungguhnya sistem pengendalian lalu lintas nasional.
Peran Command Center KM 29 menjadi sentral dalam strategi ini. Pusat kendali tersebut mengintegrasikan CCTV, laporan petugas lapangan, serta sistem informasi lalu lintas nasional dalam satu layar pemantauan real time. Dari ruangan inilah keputusan rekayasa lalu lintas, pengalihan arus, hingga mobilisasi personel ditentukan secara cepat dan terukur.
Transformasi juga diperkuat dengan pemanfaatan Electronic Traffic Law Enforcement atau ETLE dalam berbagai bentuk, termasuk ETLE statis, handheld, hingga ETLE Drone Patrol Presisi. Pengawasan udara melalui drone menjadi instrumen baru untuk menjangkau titik rawan yang sulit dipantau kamera konvensional. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai alat penindakan, tetapi juga sebagai perangkat pemetaan situasi arus kendaraan secara menyeluruh.
Namun demikian, penggunaan teknologi tetap menyisakan tantangan. Transparansi pengelolaan data, perlindungan privasi masyarakat, serta konsistensi standar operasional menjadi aspek penting yang harus dijaga agar transformasi digital tidak hanya terlihat impresif secara teknis, tetapi juga akuntabel secara publik. Irjen Agus menegaskan bahwa teknologi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk meningkatkan keselamatan dan pelayanan.
Pendekatan prediktif ini juga disebut memperkuat legitimasi negara dalam menghadirkan rasa aman sebelum masalah muncul. Negara, melalui Korlantas, berupaya hadir lebih awal sebelum antrean kendaraan mengular atau kecelakaan meningkat. Konsep inilah yang menjadi pembeda utama dibanding pola lama yang cenderung responsif setelah kejadian.
Menjelang Operasi Ketupat 2026, sistem ini akan diuji dalam skala nasional. Arus kendaraan yang melonjak drastis menjadi parameter nyata apakah strategi berbasis data benar-benar efektif menekan risiko dan memperlancar distribusi kendaraan di jalur utama maupun alternatif.
Di bawah kepemimpinan Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., Korlantas Polri sedang membangun model manajemen lalu lintas yang menggabungkan analisis data, pengawasan digital, dan pendekatan humanis. Keberhasilan paradigma ini tidak hanya diukur dari penurunan angka kecelakaan, tetapi dari konsistensi, transparansi, dan kepercayaan publik terhadap sistem keselamatan jalan raya yang semakin modern dan terukur.Tutupnya.

0 Komentar