Saat sebagian warga masih berupaya menyelamatkan barang-barang penting, air kembali naik lebih cepat dari perkiraan. Kepanikan tak terhindarkan, terutama bagi lansia, anak-anak, dan perempuan yang kesulitan bergerak di tengah arus. Di tengah situasi genting itu, kehadiran prajurit TNI Angkatan Udara dari Lanud Sutan Sjahrir menjadi titik balik bagi warga Dadok Tunggul Hitam.
Tim Satuan Tugas Tanggap Bencana Lanud Sutan Sjahrir bergerak cepat begitu laporan banjir diterima. Dengan perahu karet dan perlengkapan evakuasi, para personel menembus hujan deras menuju titik-titik permukiman yang terendam. Suara mesin perahu berpadu dengan instruksi lapangan menjadi penanda dimulainya operasi kemanusiaan.
Komandan Lanud Sutan Sjahrir Kolonel Nav Wahyu Bintoro SE MM MHan menegaskan bahwa keselamatan warga adalah prioritas utama. Ia menyebut setiap menit sangat berharga dalam kondisi banjir yang terus berkembang. Menurutnya, TNI AU harus hadir cepat dan tepat ketika masyarakat menghadapi ancaman keselamatan.
Di lapangan, proses evakuasi dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Operasi Lanud Sutan Sjahrir Letkol Lek Rianto Lismara ST. Bersama personel TNI AU dan babinter, ia memastikan evakuasi berjalan tertib dan aman. Dengan seragam basah dan langkah yang terus menembus air setinggi lutut hingga pinggang, para prajurit mengangkat warga satu per satu ke perahu karet.
Situasi haru kerap terlihat saat anak-anak dievakuasi. Beberapa di antaranya menangis ketakutan, memeluk erat orang tua mereka. Para prajurit dengan sabar menenangkan, menggendong, dan memastikan mereka berada dalam posisi aman. Lansia pun mendapat perhatian khusus agar tidak terpeleset atau terpisah dari keluarga.
Sebagian warga hanya sempat membawa tas kecil berisi dokumen penting dan pakaian seadanya. Namun di tengah keterbatasan itu, kehadiran personel Lanud Sutan Sjahrir memberi rasa aman yang nyata. Tidak ada rumah yang dilewati tanpa pemeriksaan. Setiap sudut permukiman disisir untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal.
Kolonel Wahyu Bintoro menegaskan bahwa kehadiran TNI AU dalam bencana bukan sekadar menjalankan tugas institusi, tetapi panggilan kemanusiaan. Ia menekankan bahwa nilai AMPUH yang diusung TNI AU Adaptif Modern Profesional Unggul dan Humanis harus benar-benar dirasakan masyarakat dalam situasi darurat seperti ini.
Meski kelelahan terlihat jelas di wajah para personel, operasi evakuasi terus berlangsung hingga kondisi dinilai aman. Tidak ada keluhan, tidak ada jeda panjang. Semangat kebersamaan dan kepedulian menjadi energi utama di tengah hujan yang masih turun tanpa jeda.
Bagi warga Dadok Tunggul Hitam, banjir hari itu akan selalu dikenang. Bukan hanya karena air yang datang begitu cepat, tetapi karena di saat genting tersebut, prajurit TNI AU Lanud Sutan Sjahrir hadir menembus hujan, membawa perahu, dan mengulurkan tangan penyelamat. Sebuah pengingat bahwa di tengah bencana, negara benar-benar hadir bersama rakyatnya.turupnya(Hendri).

0 Komentar